
Seperti yang anda ketahui tentang cinta, gula jawa terasa coklat, pahit terasa manis, racun bagai madu, tak ada jauh, tak ada lelah, luasnya lautan kan disebrangi, tingginya gunung kan didaki, cerewetnya calon mertua tak terpeduli, sampai hukum agama tak bisa membatasi.
Cinta memang kejam, namun tak semua yang kejam dijauhi. Bila dia datang maka semua kan berubah. Merubah hidup, merubah rasa, merubah hati, bahkan merubah akal.
Banyak orang karena cinta menjadi buta. Mata melihat tapi yang dilihat cuma cinta, sejauh mata memandang, sebesar apa yang dipandang, lagi-lagi yang dipandang hanya cinta.
Cinta itu indah. Cinta itu suci, Cinta itu anugrah, Cinta itu fitrah.
Bila cinta datang maka tak perlu kenal. Bila ia datang maka tak perlu segala.
Cinta itu datang bukan dari mata, bukan dari hati, bukan dari telinga, dia datang langsung membuai, dia datang langsung membelai, dia datang langsung merangsang, dia datang tak pakai salam. Iya ….. cinta adalah anugrah.
Rabiah al adawiyah, adalah tokoh cinta, salah satu tokoh diantara para pecinta. Cintanya tulus sehingga tak peduli kecuali kepada yang tercinta. Ia melihat rembulan bukan sekedar cahaya berbentuk dikala malam, ia melihat matahari bukan hanya silau disiang hari, ia melihat api bukan panasnya, ia melihat air bukan riaknya, ia melihat sesuatu bukan sifatnya. Ia melihat dengan cinta, ia merasa dengan cinta, ia beribadah karena cinta. Neraka bukanlah penghalang, sorga bukanlah tujuan, karena neraka dan sorga tak ada dalam cinta.
Banyak orang yang beralasan untuk meninggalkan agama karena Rabiah, banyak orang yang meninggalkan ibadahnya karena Rabiah, banyak orang yang berhukum pada Rabiah, banyak orang mengganti agamanya menjadi agama cinta, ‘agama’ Rabiah.
Tapi Rabiah hanyalah Rabiah, ia adalah manusia, manusia pecinta. Cinta tak bisa diukur hanya dengan kata. Cinta hanya bisa dikenal karena perjuangan. Dan cinta Rabiah tak kan bisa mengalahkan cinta Muhammad.
Saya takut cinta kita hanyalah kata-kata munafiq yang menghias bibir untuk dikabarkan kepada orang supaya mengganti agamanya menjadi agama cinta. Namun cinta itu sendiri kita tidak mengenalnya sebagaimana Rabiah mengenal cinta.
Rabiah saya mencintaimu, namun cintaku pada Muhammad lebih besar. Tapi …… cintaku tak sebesar perjuanganku. Astagfirullah.
NB : Rabiah Al-Adawiyah adalah tokoh sufi yang beribadah dengan ibadah yang tetap mengikuti ajaran Muhammad Rasulullah saw. Bukan orang yang keluar dari Islam.