Jumat, 07 November 2008

KEBAKARAN, KEPEKAAN DAN …?


Saya di pasar Segiri saat daerah Soetomo terbakar, dan pada saat itu masih banyak barang jualan saya. Perang batin pun terjadi antara mendatangi kebakaran sebagai wujud solidaritas kemanusiaan dan barang jualan yang pertama sekali saya jual dengan modal awal minjam kepada adikku Rp.50.000. Sekitar 15 menit dari pertama kali saya melihat asap yang menebal membelah kegelapan dengan kegelapan pula akhirnya saya putuskan untuk meninggalkan jualan saya. Buanyak orang yang menyaksikan kebakaran itu terjadi mulai dari para penjual yang ada di pasar segiri hingga orang yang dating setelah dibangunkan oleh sirine mobil pemadam kebakaran, namun kedatangan mereka sekedar untuk menyaksikan dan berspekulasi dengan apa yang terjadi, mengapa api itu ada. Mungkin disebabkan tidak adanya orang yang harus ditolong atau orang tidak mau ditolong karena curiga dan curiga sehingga kecurigaan itu dicurigai lagi oleh orang yang ingin menolong yang berakhir memilih diam dan bungkam.

Sebelum saya berangkat, pertanyaan yang muncul apa yang saya dapat perbuat dengan besarnya api disana, apa manfaat keberadaan saya disana, lagian saya tidak memiliki keluarga saya disana dan banyak orang pasar yang tidak meninggalkan barang jualannya sementara diantara orang pasar sendiri ada orang yang tinggal di daerah kebakaran. Bahkan tetangga jualan saya – yang saya tidak tau kapan perginya meninggalkan jualannya – eh ternyata adalah termasuk rumahnya yang dilahap api.

Aku bingung mengapa pertanyaan itu dating, padahal saya yakin – apalagi setelah saya berada di lokasi kebakaran, ternyata banyak sekali manfaat keberadaan saya disana, mulai ada orang yang minta tolong ambilkan tvnya yang akhirnya saya tidak bias juga mengambilkannya karena bersebelahan sekali dengan rumah terbakar, hingga berbagi ember untuk menyiram api yang besarnya serumah. Saya langsung teringat tentang hikayat burung pipit yang ingin memadamkan api yang membakar nabi Ibrahim as. Yang menjelaskan kepada kita bukan hasilnya namun usahanya bukan.

Untung saya memilih untuk berangkat jika tidak saya akan turut menyesal, mengapa tidak ada sekumur-kumur airpun yang saya tuangkan untuk berusaha memadamkan api tersebut. Padahal di sana ada rumah Allah yang yang juga ikut terbakar. Ampuni hamba ya Allah yang lambat mengambil keputusan.

SEmoga ini dapat bermanfaat di kemudian hari, ketika ada yang kejadian segeralah untuk meresponnya. Saya yakin pertolongan kita pasti akan dibutuhkan walau hanya sekedar air ludah kita untuk memadamkan api segedong – itu bila memang tidak ada air dan cara lagi untuk memadamkannya. Kata instruktur saya ketika saya mengikuti pelatihan SAR “menolong bukan lantas kita kontak langsung dengan korban, apalagi bila kita tidak cukup peralatan dan kemampuan untuk menolong korban, berteriak atau menelpon polisi dan lainnya juga termasuk menolong. Ingat korban cukuplah sang korban jangan ditambah lagi dengan keberadaan kita”.
Oh ya mungkin untuk masalah kebakaran di samarinda ini saya ingin mengusul kepada pemerintah dinas kebakaran – canda, setelah saya amati dan dengar kejadian ketika ingin memadamkan mobil pemadam sempat mencari-cari jalan untuk sampai pada titik api nah saya mengusulkan begini:
  1. Kota Samarinda sudah harus dipetakan, sehingga ketika ada kejadian terutama kebakaran sudah ada jalan cepat untuk menanggulaninya.
  2. Mungkin perlu selalu diadakan pelatihan antisipasi kebakaran kepada masyarkat yang daerahnya rawan kebakaran.
  3. Apa lagi ya. Sebenarnya sih buanyak tapi itu kalau Samarinda sudah makmur

Kamis, 06 November 2008

SMILE PLEASE!!!!!


Apa sih yang membuat orang tidak bisa tersenyum, utangnya ditagih, diputus wanita, dicuekin orang, diabaikan dan lain-lain?!!. Ah kalau dipikir-pikir untuk apa sih ya terlalu dicemaskan. Yang jelas kita kan sudah berupaya semaksimal mungkin. Kalau malas-malasan ya itu urusannya lain. Ini kan sudah sungguh-sungguh. Utang sudah sungguh-sungguh pingin dibayar, sudah sungguh-sungguh ingin membahagiakan sang wanita, sudah berupaya dengan maksimal untuk tampil baik di depan masyarakat. Lantas dapat kebalikan apa yang kita inginkan ya udahlah, itu kan urusan di atas. Lagiankan paling Cuma masuk penjara kalau tidak bias bayar utang, diputusin masih ada kok cewek lain, cewek itu punya karakter yang beragam, namun walaupun beragam namanya karakter itu pasti ada yang sama. Asal kita tidak terlalu banyak memilih bukan. Apa lagi??!! Ditolak permintaan kita, orang iklan di tv selalu ditayangkan walaupun orang begitu bertemu iklan langsung diganti, intinya emang gua pikiriiiin.

Oh urusan rumah tangga maksudmu?

Istri tidak bias makan, anak kelaparan dan lain-lainnya gitu.

Yang penting kan ente sudah usaha, kalau mati kelaparan ya memang rezekinya segitu. Tapi kan kita terus pingin usaha, lantas kalau tidak kita bias capai itu bukan urusan kita.

Memangsih akan sakit kepala jika kita memikirkan yang bukan urusan kita. Urusan kita kan Cuma mencari kiat, mikirin lalu di amalkan. Nah hasil itu urusan yang di Atas.

Kita sih pinginnya memang pingin membahagiakan istri kita, anak-anak kita, kalau Allah berikan syukur, kalau Allah belum berikan pasrah. Yang jelas tetap tersenyum gitu.

Oh ya malam ini sebelum aku mengetik tulisan ini, saya barusan mencoba untuk mendatangi seorang teman yang berjualan di pasar, ia sih ada malunya dikit, karena dia sudah membimbingku dalam 2 pekan kemaren bagaimana menembus pasar tradisional. Iya yang membuat saya malu, karena saya ngincar tempatnya. Tapi aku lawan rasa malu saya, kalau ditolak ya biarin aja. Akhirnya aku ngomong pingin nyewa tempatnya tapi ………………. Apa sambutannya. Ah pake aja nanti kalau sudah besar pake ruko jualannya, tidak usah di sewa. Na kan tuh. Kalau kita malu lantas tidak bilangkan rugi sendiri, ngomong saja apa yang kita inginkan, masalah ditolak itu urusan nanti, yang jelas kita sudah mempersiapkan diri kita baik untuk diiyakan dengan terimakasih maupun ketika ditolak harus dengan bersabar. Begitu saja.

Kata gusdur sih, "ah gitu aja kok repot". Ada benarnya juga. Tapi kalau menyangkut urusan orang banyak ya enggak papa repot dong Gus.

The Ring

(dikutip dari perjalanan seorang petualang)

Banyak orang mengharapkan perubahan, bahkan dengan diusungnya kata change yang berarti perubahan oleh Barak Obama menjadikan dia president di negerinya Pa’de Sam padahal dia berasal dari kalangan orang minoritas dari segi ras.

Perubahan membutuhkan komitmen itu pasti, orang yang tidak berani untuk membuat komitmen hidup baik atas nama Tuhan maupun atas nama siapa saja pasti tidak akan membawa perubahan yang berarti.

Saya ingin berubah dari orang yang suka melihat-lihat situs porno menjadi orang yang suka membuka hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Dari orang yang suka mengakses dan mendownload macam-macam yang berbau maksiat menjadi orang yang pingin berbuat banyak untuk rahmat seluruh alam pada umumnya dan keluargaku khusunya. Namun keinginan itu sering kali gagal ketika saya mencoba untuk jauh dari istriku mulai dari urusan pekerjaan hingga menjadi utusan pelatihan yang membuat saya berpisah lebih dari sepekan.

Saya ingin ada pengingat untuk itu, maka di hari ulang tahun istri saya saya membelikan 2 cincin, untuk saya satu dan istri saya satu. Guna untuk membuat perjanjian (baca komitmen) untuk menghindari hal-hal yang bersifat maksiat. Cincin itu kini kuletakkan di jari telunjuk kanan saya supaya mudah terlihat ketika saya sudah berada di depan internet atau dimanapun saya berada.

Alhamdulillah, banyak pengaruh yang ditimbulkan dari hal demikian. Setidaknya ada remlah ketika kita sudah mulai terpikir yang demikian lagi.

Tapi selalu ingat bahwa semua itu kita harus serahkan pada yang Maha menentukan. Bukan?!

Masih banyak sih yang bisa dilakukan untuk mendukung perubahan. Dulu saya ingin sekali ketika telah melakukan suatu perbuatan menyimpang pinginnya sih di tato saja. Tapi itukan tidak boleh. Yach tapi demi perubahan saya ingin melakukan segalanya.

Saya ingin berubah dan perubahan itu atas nama-Nya yang Agung. Cincin yang saya gunakan bukanlah jimat untuk perubahan, namun dia hanya sebagai pertanda. Pertanda dimulainya perubahan. Apalagi momen pada saat itu tepat, saat saya tidak bisa meberikan apa-apa kepada istriku kecuali cincin yang saya beli dengan harga satuannya 4 ribu rupiah di terminal damai Balikpapan.

Yeah, The Ring is an inspiration from my God.

Pasar Tradisional

Setiap kali mengawali sesuatu pasti akan terasa berat dan sulit, tapi hal itu bukanlah suatu aksioma yang membuat menjadi mudah bila melewati tahapan awal. Semua perlu strategi dan pemikiran yang matang. Belajar itu perlu tapi bila terus belajar tanpa memperaktekkan, maka kita tidak pernah tahu apa yang dibutuhkan secara nyata dan sudah sampai dimanakan pemahaman kita yang sesungguhnya.

Semua lini yang akan kita awali pasti membuat kita ragu dalam melangkah, apakah kita berada pada jalan yang menguntungkan atau tidak. Mungkin dilihat sekilas berjualan di pasar tradisional sangatlah mudah tidak seperti pasar-pasar swalayan yang katanya harus memiliki lahan dan gedung. Pasar Tradisional menyimpan gayanya sendiri. Karena ternyata untuk menembus pasar tradisional (apalagi bila modal memang tidak ada) diperlukan banyak hal. Dimulai dari kepercayaan diri hingga mudah bergaul. Untuk mencari tempat dan menarik pelanggan bukanlah suatu yang gampang, belum lagi jika mencoba memainkan harga yang dimana di dalamnya terdapat bos-bos yang sudah berurat berakar yang mengetahui seluk-beluk harga hingga permainan harga.


Kata orang jika mau untuk besar harus modal besar, namun kata orang pula bila punya modal besar maka akan beresiko rugi besar. Nah dipasar tadinya sih ketika saya ingin memulai pinginnya langsung dapat pinjaman dari mertua adik saya, untungnya tidak dikasih, kalau dikasih sebenarnya saya masih bingung mau jualan apa?.


Ini tak kasih kiat untuk menembus pasar tradisional
  1. Cari teman sebanyak-banyaknya
  2. Rata PenuhKeliling dulu cari tau apa yang dibutuhkan nanti kalau sudah jualan.Mulai dari keamanan hingga permainan harga
  3. Keliling lagi cari sudut-sudut dan lokasi yang belum dikuasai, bila tidak ada manfaatkan saja lokasi yang kosong dan boleh untuk jualan.
  4. Memangsih ada resiko digusur oleh petugas tapi jalanan adalah pilihan yang tepat untuk para pemula yang modalnya pas-pasan
  5. Jual dulu dan jangan mengharap keuntung di awalnya, rebut dulu pelanggan
  6. Kalau sudah sedikit menguntungkan cobalah untuk cari lagi lokasi yang disewakan.
  7. Kalau sudah punya tempat pasti ada nanti pemasok yang siap dengan modal nanti dibayar.
Maaf kayaknya sih gampang buanget. Tapi ini baru teori loh. Yah tapi enggak papakan. Kita coba bersama.

Jika ada ide boleh bagi-bagi dong

Minggu, 26 Oktober 2008

MLM VS Abdurrahman bin Auf

Alhamdulillah, Saya yakin ini merupakan godaan
Ketika saya mengikuti acara salah satu dari mlm (multi level marketing)
Di mana dalam acara tersebut banyak sekali motivasi-motivasi
Baik motivasi untuk join maupun motivasi untuk maju
Mungkin inilah zamannya, dimana banyak orang yang sebenarnya menipu
Dengan menggunakan topeng-topeng kebaikan.
Segala kebaikan dilontarkan
Untuk menutupi suatu keburkan terbesar
Mengeruk sebanyak-banyaknya MONEY dari orang-orang rendahan
Dari orang-orang malas yang pemimpi
Mereka mengatakan:
Bisnis ini akan selalu menguntungkan tidak akan merugikan
Namun ingat apa yang mereka selalu katakana diujungnya
TAPI PERLU KERJA KERAS MENCARI DOWN LINE
Memang yang dibutuhkan empat, namun empat yang produktif
Dan untuk mencari empat yang produktif dibutuhkan energi yang tidak sedikit.
Mereka berkilah
Itulah kerja kerasnya
Ya bagus memang
Saya memang tertarik
Dan terus terang ada sedikit sentiment ras yang membuat saya tertarik dan sekaligus berusaha menolak untuk tidak ikut.
Bukankan selama ini yang menjajah ekonomi Indonesia adalah mereka.
Walau di tengah-tengah mereka muncul manusia-manusia berkerudung
Tapi mereka telah kehilangan spirit. Hanya segelintir dari mereka yang mendatangi sholat ashar ketika acara berlangsung.
Atau mungkin di antara mereka banyak musafir.


Alhamdulillah, saya yakin ini merupakan godaan
Godaan untuk menjauhkan saya dari keinginan saya semula
Menjadikan pasar sebagai tujuanku dalam mencari ma’isyah
Padahal selama ini saya selalu terbayang
Bagaimana seorang pembisnis besar nan jujur
Pembisnis hebat yang memiliki hati nurani
Bersih sebersih cerahnya mentari pagi
Menghangatkan bercampur dalam kesejukkan yang membahagiakan
Dialah sahabat setia
Dari seorang Nabi Agung yang sangat hebat
Sahabat yang akan memasuki sorga dengan merangkak
Karena begitu dekatnya sorga
Sebagai balasan kebaikannya di dunia
Yang tak pernah ia pamerkan untuk menarik pelanggan
Sebagaiman para MLM-er.


Oh Tuhan ajarin aku
OH Tuhan Tunjukin aku.
Please
Langkah-langkah Abdurrahman bin Auf ra

Sabtu, 25 Oktober 2008

WAR

Mungkin satu kata yang dapat mewakili diriku sekarang adalah war
War terhadap keinginanku yang selalu menjadi mangsa kebodohon.


Kebodohan, ya kebodohan. Jelas merupakan kebodohan bila seseorang dengannya dapat merusak dirinya namun dia tetap melakukannya bukan?!. Orang bodoh adalah orang yang tidak mengerti untuk apa dia melakukan sesuatu tersebut. Atau dia hanya ingin menggapai satu kepuasan hidup tapi melupakan instrument lainnya yang mendukung kepuasan hidup yang sempurna.


War adalah kata yang pantas untuk mewakili dalam berproses untuk menjadi orang yang kuat saat ini. Dan salah satu taktik untuk dapat memenangkan war tersebut adalah mengetik seperti saat ini.


Semua benda di dunia ini memiliki 2 mata pedang. Bahkan Tuhan sendiripun demikian. Tergantung bagaimana mesikapinya. Internet di satu sisinya dapat memberikan keuntungan positif yang sangat, namun di sisi lainnya sangat berbahaya dapat menghancurkan siapa saja, bahkan tempat bersemayam nama Tuhan yang ada di hati.


War ini bukan bukan war biasa, yang bukan sekedar menentukan hidup dan matinya saya. Tapi lebih dari itu, prestige, baik dalam pandangan keluarga, orang terdekat hingga pada pandangan Tuhan.


Aku ingin memenangkannya dengan bukti nyata yang kongkrit, yaitu yang membuat Abah dan Mama saya tersenyum bangga sehingga keduanya ridho menyebutku dalam do’a-do’a mereka. Istri saya semakin cinta dengan saya sehingga andai boleh cinta berlebihan yang dapat menyaingi Tuhan dan Nabinya aku ingin sekali dicintai lebih dari itu. Anak saya merasa sangat membanggakan papahnya, dimana-dimana dengan anggun berjalan dan menepuk dadanya ini adalah aku, dan aku adalah anak papahku, dan….. aku dan papaku adalah hamba Tuhanku, pengikut setia nabiku. Nabiku Bangga dan akan memelukkan di akhirat seraya berkata ya Rabb inilo salah satu Ummatku. Allah ku Ridho dan menjawab ocehan nabiku “iya itulah hamba-KU”.


Namun saat saya mengetik saat ini, godaan syahwat terus menyerangku dari belakang. Menyusup dengan mengintai napasku. Meraba hingga mengetahui denyut jantungku, Menyelam hingga kesamudra pikiranku. Sampai akhirnya saya tidak tahu siapakah yang akan menang nantinya. Tapi yang jelas aku sudah mengetik sebagai bukti reaksiku akan perlawananku terhadap godaan itu. Dan itu adalah salah satu taktikku dalam War ini.

Minggu, 25 Mei 2008

KESEIMBANGAN....?

Banyak orang yang berbicara tentang keseimbangan dalam menjalani kehidupan ini. Dan hampir pembicaraan itu ada setelah melihat ada orang yang terlalu terkesan serius dalam menjalankan agamanya sampai-sampai terlihat telah melupakan dunianya (baca: rumah tangganya – bagi yang sudah berkeluarga)

Untuk lebih meyakinkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut di atas kurang benar, diambillah dalil (yang menurut orang kebanyakan diduga adalah sebuah hadits) dari perkataan seorang sahabat Nabi saw Ali Ra.

Artinya :

“Bekerjalah kalian untuk dunia kalian seakan-akan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah (beribadahlah) kalian untuk Akhirat kalian seakan-akan kamu akan mati besok”

Sebenarnya saling mengingatkan itu sangat dianjurkan – bahkan sangat di wajibkan. Namun yang sering terjadi adalah kita sering melupakan diri kita sendiri. Kita melupakan standar indikator (mengutip istilah seorang anggota dewan), syarat-sayat atau wazan (timbangan – istilah dalam keulamaan) untuk mengetahui apakah kita ini sudah seimbang atau belum – atau tidak sama sekali. Jangan-jangan yang menilai dan yang dinilai juga sudah terlalu berlebihan, yang satu betul-betul dalam menjalankan ibadah dan dakwahnya melalaikan keluarganya, dan yang yang lain telah terjebak dalam penumpukkan harta (.....namun tidak kaya-kaya juga). Lantas muncul pertanyaan: ”siapakah diantara mereka berdua yang termasuk ’golongan’ selamat?” boleh jadi kedua-duanya tidak selamat. Pasalnya, yang conset terhadap agamanya sehingga melupakan keluarganya bisa dituntut oleh anak dan istrinya (atau keluarganya) karena tidak peduli akan agama anak dan istirinya (atau keluarganya), dan yang selalu menilai orang di atas – sementara ia sibuk dengan urusan dunianya akan dituntut pula oleh anak dan istirinya (atau keluarganya), karena tidak memperhatikan kehausan rohaniyah dari anak dan istirinya (atau keluarganya) bahkan dirinya. Tapi lagi-lagi ya kembali pada niat dan proses dalam menjalan kegiatan apapun bukan? Niat baik kalau prosesnya salah akan tertolak. Bila prosesnya baik namun niatnya rusak juga akan tertolak.

Kembali pada permasalah indikator, syarat-syarat atau wazan (timbangan) dalam menentukan keseimbangan dunia dan akhirat. Untuk bisa tepat dalam menginterpretasikan (mengartikan – lebih mudahnya) torang harus kembali pada dasar atau dalil di atas. Kita bahas kalimat-kalimatnya.

Pertama : ”Bekerjalah kalian untuk dunia kalian seakan-akan kalian hidup selamanya”

Pertanyaan : sudah-kah kita telah mengusahakan untuk dunia kita seperti – [seakan-akan] kita akan hidup selamanya.

Menurut saya, kalimat ”Bekerjalah kalian untuk dunia kalian seakan-akan kalian hidup selamanya” adalah kalimat filosopi yang mempunyai makna tersirat seperti ini: ”yok kita bekerja, kita ekspolari alam ini, kita cari emas, kita cari duit. Tapi ingat ....... semua yang ada ini bukan hanya untuk generasi kita tapi juga generasi sesudah kita, ada anak-anak kita, cucu-cucu kita. Toh kalau kita bisa hidup selamanya, pun kita masih memerlukan modal untuk dapat bertahan, bukan?”

Saya teringat sebuah tayangan TV Edukasi punya-nya Diknas yang kebetulan saat itu menayangkan tentang ekonomi jepang hasil per-laut-an. Untuk menjaga kesetabilan ekspor [atau bahkan meningkatkan] ekspor ikan tuna, Jepang menggunakan tekhnologi yang bernama GPS (Global Position Sistem) untuk melacak pergerakan ikan tuna di perairan tangkapanya. Ternyata ikan tuna memiliki gerombolan-gerombolan (bukan gerombolan si berat dalam cerita Donald Duck) yang selalu berjalan bersama gerombolannya masing-masing. Nah dengan ditangkapnya beberapa ikan itu dalam masing-masing gerombolan dan telah dipasangi GPS (prosesnya begini: ikan ditangkap, lalu bagian bawah dekat sisi perutnya dibelah, setelah itu dimasukkan lah GPS kedalamnya, setelah itu dijahit, lalu dilepaskan kembali) maka akan ditahu mana gerombolan ikan yang yang sudah dieksploitasi, mana yang sedang dalam perkembangan, dan mana yang sudah harus dikejar (kayak buron aja). Akhirnya mereka bisa mendapat hasil yang bagus dan ketahanan dalam pencapaian hasil penangkapan setelahnya bahkan bisa selamanya. Inilah yang saya maksud dengan ”Bekerjalah kalian untuk dunia kalian seakan-akan kalian hidup selamanya” (maaf : tidak seperti di Indonesia kan. Hasil alamnya habis eh generasinya tetap miskin, sudah tidak bisa menikmati hasil alamnya selama-lamanya. MISKIN LAGI).

Yang kedua: ”Bekerjalah (beribadahlah) kalian untuk akhirat kalian seakan-akan kalian akan mati besok.”

Pertanyaan: sudah?

Contoh: Perbandingan orang yang melakukan sholat jama’ah dan orang yang melakukan sholat sendiri. Sholat berjama’ah akan mendapatkan 25 derajat (ada yang mengatakan 27 derajat) dan sholat sendiri hanya akan mendapat 1 derajat. Logikanya begini: untuk berpergian jauh, sebutlah ke Jakarta, supaya enak dalam perjalan dan enak bila sudah sampai disana maka sangat bergantung pada modal yang kita bawa bukan? Kalau banyak kita bisa naik kendaraan tercepat, ternyaman dan ............. udah pokoknya yang ter dech. Sudah begitu, sampai di jakarta kita bisa mengunjungi tempat-tempat yang kita inginkan, main apa saja yang kita idam-idamkan. Beli apa saja yang sudah menjadi impian kita. Itu kalau uang yang kita bawa banyak (tentunya milik kita dong, masa pakai uang rakyat. Kalau pakai uang rakyat itu berarti PANCURI – maaf kalau tersinggung)

Tentunya jika disuruh pilih, dalam memodali perjalanan kita apakah kita pilih modalnya yang banyak ataukah yang sedikit? Saya yakin jawabanyaa sama dengan apa yang ada dalam benak saya saat menulis ini (pilih yang sedikit dong untuk dihilangkan dari pilihan itu) nah bagaimana dengan pilihan 25 derajat dan 1 derajat tadi?.

- Eh.... maaf kita ini bicara tentang bekerja untuk akhirat kita dan kita seakan-akan akan mati besok. (-jangan marah gitu dong ah) -

Siapa tau dengan dapatnya kita 25 derajat memudahkan kita berseluncur di shirat menuju surga. Dan jika 1 derajat membuat kita tergopoh-gopoh menapaki perjalan tersebut.

Ada pertanyaan masuk dari sms bernomor 08143xxxxxx :

”kan semua itu bukan tergantung amal kita tapi tergantung rahmat Allah”

Jawaban:

”Betul semua tergantung rahmat Allah, tapi rahmat Allah kan tidak diberikan secara gratis seperti pulsa anda. Di sana ada usaha pencapaiannya. Masasih bisa dapat gaji 13 kalau tidak pernah bekerja selama 12 bulan. Itu namanya kecurangan. Dan curang bukan sifatnya Allah ta’ala sobat.”

Sebelum saya tutup tulisan ini. Saya beraharap kita semua dapat selalu mengevaluasi diri. Hati-hati. Pertanggung jawaban kita bukan hanya diri kita, tapi ada anak kita, ada istri kita, ada keluarga kita, ada generasi kita setelah kita. Jadi mohon, kita selalu berupaya untuk ahkirat dan dunia kita semaksimal mungkin.

Sekian dulu tulisan ini. Semoga bermanfaat

Wallahua’lam

Tolitoli, 23 Mei 2008

Ingat Waktu ..... Dalam Setiap Aktivitas