Senin, 03 Agustus 2009

HUDAN (baca PeTunJuK)


Dalam suatu kesempatan di pengajian malam Jum’at ustadz Abdullah Sa’id Allahuyarhamhu menstressing tentang bagaimana pentingnya Hudan atau Petunjuk dalam kehidupan kita tertutama para aktivis da’wah. Terkadang ada sesuatu yang dianggap spele namun karena hal itu dilakukan berdasarkan ‘hudan’ atau petunjuk dari Allah, maka sesuatu itu memiliki makna dan manfaat yang bisa dirasakan oleh alam di sekitarnya, dan ada juga suatu perkerjaan dianggap sebagai perkerjaan raksasa sehingga menyedot anggaran yang tidak kecil, tapi dilakukan bukan karena petunjuk atau hudan dari Allah swt maka perkerjaan itu atau hasil dari pekerjaan itu tidak memiliki dampak positif bagi alam sekitarnya, bahkan cenderung memberikan pengaruh negative yang kadang dirasakan secara langsung maupun secara bertahap.

Saya sadar, dengan gaya saya sekarang ini dalam mengetik atau menulis tentang refleksi ceramah beliau tentang hudan ini, yang begitu santai, tidak nampak ciri perjuangan, tidak akan memiliki dampak yang positive bagi minimal orang yang membacanya. Namun saya yakin, banyak hal atau sesuatu yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh di luar Islam, yang akhirnya menjadi penyebab datangnya hidayah bagi yang lain, karena hudan adalah hak prerogative Allah, yang diberikan oleh Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan hudan juga berbentuk hasil dari sebuah pencarian, dimana ketika seorang membuka dirinya atau ketika hudan itu masuk ke dalam dirinya lantas dia jaga dengan sepenuh jiwanya, maka hudan itu akan menjadi sebuah hasil yang akan memberikan dampak positive yang luas bagi alam sekitarnya. Perkara hudan adalah perkara besar yang harus diupayakan dan dijaga semaksimal mungkin. Karena tanpa hudan hidup kita tidak akan bermakna, ibarat seorang buta kehilangan tongkatnya, ibarat seorang musafir yang berjalan di atas sahara luas namun petunjuk jalannya meninggalkannya entah kemana, sementara dalam keadaan bingung, panas tak kunjung surut tertutup awan, hawa panas menjelma menjadi bara api yang mengeringkan tenggorokan, begitu tersiksa, tersiksa karena kebingungan dan tersiksa karena ketidaknyamanan dalam bergerak. Terpasung oleh alam.

Ya terkadang hudan datang seperti seorang tamu yang diharapkan kedatangannya begitu lama, lalu datang dan Cuma sekedar mengetok rumah, bincang-bincang sebentar minum segelas susu lalu pergi lagi tak tahu kapan akan datang kembali, sekedar membawa kabar gembira lalu hilang entah kemana, ada juga hudan yang datang seperti seorang penguji, datang dengan pakaian lusuh dan papa, mengetok rumah dengan aroma yang tidak mengasikkan, lalu pergi setelah kita tolak karena tidak sesuai yang kita harapkan. Pergi entah kemana dan sepertinya tidak mau kembali lagi, padahal jangka waktu menunggu yang telah kita buat sangat terasa begitu lama dan kepergiannya membuahkan sebuah penyesalan dan keputusasaan. karena untuk menunggu kedua kalinya walau dengan waktu yang lebih pendek tapi rasanya akan terasa lebih lama.

Hudan adalah sesuatu yang mahal, yang seharusnya kita jaga lebih dari menjaga harta kita, lebih dari menjaga keluarga kita, lebih dari segala-galanya. Semoga kita terpilih untuk senantiasa hudan itu mampir memberikan pemaknaan, dorongan dan kesejukan dikala kita mencoba untuk menyelami, menghayati, mentadabburi, dan melakoni ayat-ayat Allah baik yang tersurat dalam Kitab-Nya maupun yang tersirat di alam semesta ini. Amin.


Apa Yang kita Banggakan, ya sobat?!


Seorang Ulama didatangi seorang utusan Raja, utusan itu menyampaikan pujian raja kepada ulama tersebut dengan mengatakan bahwa telah sampai berita tentang masyhurnya nama beliau dalam pandangan masyarakat sebagai seorang ulama yang zuhud. Ulama itupun segera menjawab dengan ungkapan yang luar biasa indahnya, bahwa kemasyhuran beliau itu karena Allah telah menutupi dosa-dosa yang dia miliki, seandainya Allah membuka rahasia akibat dosa-dosa yang ia lakukan maka sesungguhnya tidak layak bagi beliau untuk dipuji demikian.

Dari cerita ini banyak hal yang menjadi ibrah untuk kita, terutama kesadaran diri kita untuk senantiasa meng-aku dalam kelemahan di hadapan Allah Sang Zat Maha Mulia, Maha Sempurna, Maha Mengetahui apa yang tersirat dan tersurat dari detakan rasa dan pikiran kita, Mengetahui dari tipu daya motivator giatnya kita dalam mengamalkan perintah-perintah-Nya, Maha Lembut, Maha Dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita, Sang Penentu yang Bijaksana, Sang Hakim Adil dan Bijak, Yang Maha Penyayang dan Sekaligus Maha Keras siksa-Nya, Yang Menjanjikan Surga juga Pengancam yang menakutkan dengan azab-Nya. 


Minggu, 02 Agustus 2009

KEBEBASAN


JIka kita dalam keadaan sadar, pasti dalam kesadaran kita ada belenggu, ada pengikat. Karena ternyata setelah kita memahami sesuatu, kepemahaman kita sudah dijangkiti oleh pemahaman-pemahaman yang lain, kita tidak bebas secara mutlaq.

Kebenaran itu relative, begitu seorang filsuf yang mengatakannya dengan alasan bahwa boleh jadi di suatu tempat ada sesuatu yang dianggap benar namun di tempat lainnya hal itu dianggap tabu, atau sesuatu yang patut di jauhi.

Pemahaman akan relatifnya sebuah kebenaran, mungkin karena kesadaran kita yang diantar dengan keadaan dan doktrin-doktrin yang berbeda, atau bolehlah kita katakan bahwa wadah dalam memahami sesuatu itulah yang berbeda, bukan kebenarannya. Karena kebenaran itu satu dan bersifat universal, mudah dipahami dan dirasakan. Jadi bukanlah kebenaran yang relative, namun wadah kita dalam memahami kebeneranlah yang relative.

Banyak orang yang ingin terbebas dari ikatan hukum Tuhan, padahal bila dia menolak untuk masuk kedalam suatu pemahaman maka dia akan terjebak kepada pemahaman yang lain. Atau jika dia menolak untuk dipimpin Tuhan, maka sesungguhnya dia akan masuk dalam kepemimpinan yang dipimpin selain Tuhan. Artinya, secara haqiqi tidak ada orang yang dapat bebas secara mutlaq. Orang yang anti Tuhan dan berusaha menolak adanya Tuhan, akan tetap berada dalam belenggu-belenggu lainnya. Maka sesungguhnya orang tidak dapat berlari dari ikatan manapun. 

Nah permasalannya bukan menghindari dari ikatan, atau terbebas dari segala apapun namun yang terpenting adalah kita berjalan di atas fitrah kita, di atas kebenaran yang universal dan di atas kebenaran yang diyakini oleh hati nurani kita, bukan hanya dengan rasa kita, tapi juga dengan pikir kita, sebab akibat, pengaruh dan akal kita.

Mengapa Islam atau orang memiliki Allah dihatinya adalah orang yang disebut bebas, karena dia telah menjadikan motivasi dan tujuannya adalah karena Allah, sehingga dia berusaha untuk bertindak sesuai dengan maunya Allah, bukan maunya dirinya, yang tidak memahami akan sebab akibat, pengaruh dan dampak dari apa yang kita perbuat. Dengan beriman kepada Allah kita tidak takut lagi dengan yang lainnya. Rasa sakit yang kita rasakan adalah rasa sakit yang tidak ada artinya dibandingkan dengan anungrah yang Allah berikan, kenikmatan yang ada tidak adalah artinya dibandingkan dengan kenikmatan yang dijamin oleh Allah. Lagi pula kan sama saja apa yang dirasakan oleh orang di dunia ini, ada sedih, ada bahagia, ada luka, ada duka dan ada suka. Orang beriman pun merasakan yang sama, namun semua akan berbeda jika sesuatu yang dirasakan itu bila dikembalikan kepada Allah.

Orang yang dapat bebas secara mutlaq adalah orang yang hadir kedunia ini tanpa ada suatu apapun disisinya, atau dia hidup dalam keadaan tidak sadar. Karena begitu dia sadar sementara ada sesuatu dia temukan disisinya maka hal-hal itulah atau sesuatu itulah yang akan menjadi presepsi awal dalam menilai hal-hal lainnya.

Jadi bukanlah orang yang bebas adalah orang yang mengatakan bahwa saya bebas semau gue, kalau saya mau tidur ya tidur, eit nanti dulu bila kau ingin tidur belum tentu kamu bisa tidur bukan, begitu juga kalau ada yang mengatakan saya mau makan ya saya makan, belum tentu dia bisa makan bukan?!. Kebebasan yang ada adalah kebebasan dimana kita tidak memiliki rasa takut lagi dalam beraktualisasi diri, tidak ada lagi yang mengekang kita, tidak ada lagi yang menghalangi kita. Bisa begitu?! Tidak akan bisa, yang memiliki kebebasan seperti itu dengan kemauan bebas yang luas hanyalah Tuhan. Kenapa kita tidak bisa, karena kita ada luka, ada duka, ada suka, ada sedih, ada rasa. Kita akan merasa bebas bila kita merasa dengan Tuhan Yang Maha Merdeka. Kita akan merasa bebas dalam ke-Maha Bebasan Allah. Kita akan merasa terbebas bila kita bersandar penuh kepada-Nya. Dan mengikuti apa mau-ya, karena ternyata dibalik ke-Bebasan Allah, dibalik Kemerdekaan Allah ada Adil-Nya, ada Kebijaksanaan-Nya, ada janji baik-Nya bagi yang mengikuti mau-Nya, bila tidak ada ancaman-Nya bila kita menolak akan mau-Nya. Lantas bisa kah kita bahagia dalam kebebasan yang terikat seperti itu?! Akan sangat berbahagia, atau lebih berbahagia dibangding kita bebas dalam mengikuti perintah syahwat kita sendiri, apalagi syahwatnya orang lain, syahwatnya syetan, syahwatnya stalin, syahwatnya Hitler, syahwatnya para pendeta dan rahib, syahwatnya sendiri, syahwatnya kaum liberal, syahwatnya kaum feodal, syahwatna para pemimpin-pemimpin yang tidak bersandar kepada mau-Nya Allah di muka bumi ini.

Yang jelas dalam kehidupan di dunia ini kita tidak akan bisa terbebas dari belenggu, atau ikatan. Jika kita terbebas dari yang satu maka kita akan masuk kedalam yang lainnya. Itu merupakan aksioma, atau bahasa polosnya film-film china ‘itu merupakan kutuk kehidupan’, atau bahasa iman, itu merupakan taqdir-Nya Allah ta’ala yang memang menciptakan kita dalam iradah-Nya, penciptaan yang bertujuan. Maka ikutilah apa mau-Nya karena Dia tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun dari amalan kita.

Afdholiyat


Dalam amaliyah Islam, orang beriman meyakini akan adanya barokah, hikmah dan kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam suatu amalan yang diperintahkan atau perbuatan yang harus dijauhi, semakin kita melakukan amalan yang diperintahkan atau kita menghindari suatu amalan yang harus kita jauhi dengan amalan yang didalamnya ada cara yang lebih utama maka didalamnya akan semakin terkandung hikmah, barokah atau kebaikan-kebaikan, baik itu yang segera kita akan rasakan secara cash, ataupun bisa jadi kita akan dapatkan di akhirat kelak.

Pernah diceritakan ada seorang anak yang – alhamdulillah – Allah mengantarkan dia untuk mendalami ilmu hingga ke luar negeri. Sang Ibu pun berpesan kepada anak ini untuk jangan lupa berdo’a, maka sang anak dengan sombongnya menjawab bahwa dia bisa saja lulus tanpa berdo’a sekalipun, karena yang membuat dia lulus atau berhasil di tempat kuliahnya bukanlah do’a namun usaha dia.

Alhamdulillah sang anak pun lulus, dan diapun menyampaikan berita kelulusannya kepada sang ibu, dia menegaskan bahwa kelulusannya bukan karena do’a, baik itu do’a ibunya maupun dia, namun kelulusannya adalah karena usaha dia. Ibunya pun menjawab, iya kamu memang lulus nak dari ujian kuliah mu tapi kamu tidak mendapatkan Tuhan nak, Allah tidak ada di dalam hati mu nak. Anak itupun dengan lantang menjawab sang ibu “untuk apa Allah harus berada di hatiku sementara saya bisa saja melakukan sesuatu tanpa bantuannya”. Ibunyapun menjawab, “untuk kamu terbebas nak, sehingga dengan kebebasan itu kamu menemukan kebahagiaan haqiqi.”

Sebenarnya jawaban ibu di atas adalah jawaban imaginer dari saya, dan untuk menjawab ini saya memerlukan satu malam untuk menjawabnya. Namun bukan permasalahan yang ‘haqiqi’ yang saya ingin bahas pada tulisan ini (pengertian ‘kebebasan’ bisa ditemukan di blog ini), namun yang terpenting sikap kita dalam ber’pastabiqulkhoirot’. 
Orang yang tidur terlentang tanpa mengikuti sunnah boleh jadi mendapatkan kenikmatan yang sama dengan orang yang tidur mengikuti sunnah Nabi, tapi ingat bobot nilai di antara orang itu berbeda. Dan bobot nilai yang ia dapatkan boleh jadi terdapat berkah yang menyembuhkan, atau mencegah penyakit, atau yang paling penting adalah satu di antaranya selalu ingat, waspada, dan hati-hati dalam menapaki kehidupan ini.

Orang yang makan dengan lahapnya tanpa mempedulikan sunnah dengan orang yang makan secara sunnah boleh jadi sama-sama merasakan kepuasan yang sama, namun orang yang melakukannya dengan sunnah akan lebih bernilai di sisi Allah. 

Dari cerita di atas, terdapat ibroh dimana seorang yang sama-sama pergi ke suatu tempat baik itu di Negara kafir maupun di Negara yang mengadopsi Islam sebagian saja, sama dalam mendapatkan kualitas keilmuan. Tapi yakinlah dampak dari ilmu tersebut, jika dia selalu merasa bahwa dia adalah hamba Allah, maka dia akan berusaha selalu usaha untuk berbuat kebajikan dan mendapatkan manfaat, - minimal – jika dia salah akan lebih mudah diluruskan, ketimbang orang yang tidak dimotivasi karena dorongan iman. 

Yang jelas dalam hidup ini selalu saja ada pilihan-pilihan, maka pilihlah pilihan yang terbaik, karena dibalik yang terbaik, dibalik yang utama ada keutamaan, ada manfaat, ada hikmah, dan ada nilai yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang memiliki iman dan yakin. Wallahu a’lam


Selasa, 28 Juli 2009

LAKUKANLAH SENDIRI!!


Sesungguhnya yang menentukan masa depan kita adalah kita sendiri, sehingga harapan akan sesuatu, atau bahkan pekerjaan jika kita mampu untuk memikulnya akan sangat lebih baik kalau kita sendiri yang memikulnya. Karena dengan berharap kepada orang lain untuk melakukan sesuatu kepada diri kita, maka pada saat itu kita menyerahkan milik kita kepada probabilitas keberuntungan, atau pada sesuatu yang tidak jelas apakah kita akan mendapatkan apa yang kita maksud atau malah kita akan merasakan sesuatu yang merugikan.

Sesuatu hal yang harus ditanamkan dalam hati kita, dalam pikiran dan perasaan kita, dalam jiwa raga kita, sebuah komitmen untuk melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan sendiri dan tidak merasa malu jika kita tidak dapat melakukan sesuatu karena ketidak sanggupan kita. Bila komitmen ini kita pegang dan berusaha untuk tampil apa adanya dengan kesungguhan yang dalam untuk mewujudkan atau beraktualisasi diri dengan upaya yang keras maka cukuplah dengan hasil apapun yang kita peroleh. Dan itu adalah hasil jerih payah kita.

Menggantungkan harapan kepada orang lain, atau berharap orang lain melakukan sesuatu untuk mewujudkan apa yang kita inginkan boleh-boleh saja, tetapi pada prinsipnya apa yang ada dalam benak kita biasanya berbeda setelah kita transper kedalam benak orang lain kecuali dengan visualisasi gambar yang jelas, pemetaan yang jelas dan rencana yang matang. Namun kejelasan ide yang kita transper kepada orang lain masih akan menjadi pertanyaan, apakah orang lain tersebut mau atau punya keinginan untuk melakukannya, mungkin terbersit dalam pikirannya, ah terlalu berat, mungkin juga terbersit dalam pikirannya, ah baru sampai di sini ternyata cara berpikirnya, dan lain-lain.
Atau begini, tetap saja kita percayakan kepada orang lain apa yang menjadi mimpi kita atau harapan kita, atau sesuatu pekerjaan yang belum mampu kita tangani sendiri asal ada beberapa syarat, seperti;
  • hal itu bukan merupakan sesuatu yang menjadi bagian prinsip yang essential
  • siap merelakan bila terjadi kesalahan-kesalahan setelah betul-betul mendapat controlling yang significant
  • adanya balasan yang stimpal yang kita janjikan bila mencapai derajat keberhasilan tertentu

    Pada intinya sesuatu pekerjaan yang dapat kita kerjakan sendiri maka kerjakanlah itu dengan perasaan ikhlas, dan apabila ada perkerjaan yang kita tidak sanggup mengerjakannya dan hal itu pasti ada maka serahkan pekerjaan itu dengan penuh tawakkal kepada Maha Pengatur alam semesta ini. Tetapi ingat sesuatu pekerjaan tanpa perencanaan yang matang, controlling yang detail, dan evaluasi biasanya pekerjaan itu tidak mencapai hasil yang sempurna.



Sudahkan kita beriman????


Sebenarnya banyak orang yang mengaku beriman, tetapi perasaan dalam menjaga imannya untuk tidak berkurang tidak lebih besar ketakutannya dibandingkan ketika menjaga barang-barang wasilahnya di dunia ini untuk tidak hilang. Iman adalah hak Allah untuk diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya, wasilah-wasilah atau materi atau rezeki yang ada di dunia ini juga hak Allah untuk membaginya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Tapi kenapa kita masih lebih yakin akan hilangnya wasilah-wasilah yang ada dengan susahnya kita menemukan kembali, ketimbang iman yang berkurang dan sangat berat untuk menjadikan iman itu bertambah. Kenapa kita merasa lebih sedih, lebih takut ketika barang kita hilang setelah kita menikmatinya sekian lama dari pada iman yang berkurang dan membuat kita mulai melepaskan sedikit-sedikit ke-Islaman kita setelah kita pernah ‘jos’ dalam menggunakannya. Mungkinkah kita selama ini lebih yakin terhadap diri kita daripada Allah, mungkinkah selama ini kita lah yang telah mendatangkan atau memudahkan rezeki yang ada atau wasilah-wasilah yang ada sehingga sampai ke tangan kita akibat usaha kita. Padahal kemampuan usaha kita juga merupakan anugrah, kecerdasan kita juga anugrah, kesehatan kita juga anugrah, dan kemampuan merasakan nikmat yang ada, kemampuan menggunakan wasilah-wasilah yang ada juga anugrah, lantas mengapa kita lebih mementingkan hal yang besifat wasilah saja ketimbang hal yang mutlaq kita harus miliki, karena iman adalah kunci dari keridhoan Allah. Orang yang mati tidak memiliki wasilah, baik banyak maupun sedikit, tidak menjadi masalah, namun orang yang mati tidak memiliki iman adalah suatu yang menakutkan, mengerikan dan akan menyakitkan.
Atau mungkin orang atau manusia selama ini, selalu menghubungkan iman dengan rezeki, sehingga kalau rezekinya berkurang ini disebabkan iman mereka, beda halnya dengan orang kafir, orang-orang barat yang bermaksiat terus setiap hari eh rezekinya lebih enak, bisa terbang kemana-mana, bisa gonta-ganti bidadari dunia, sementara kita yang beriman makanpun susah. Eit nanti dulu, jangan-jangan kita Cuma menyaksikan film yang direkayasa sebegituuu mungkin, padahal hidup ini kan bukan Cuma jasad yang terlihat, namun di sana ada gejolak perasaan, buktinya Onasis orang yang pernah di hebohkan dengan kekayaannya yang luarrrr biasa buanyaknya, akhirnya kita dihebohkan kembali dengan kematiannya yang teragis, mati bunuh diri dalam keadaan telanjang di sebuah pulaunya.
Iman dan rezeki memang ada hubungannya. Namun terkadang gaya kita mensikapi iman dan rezeki itu yang belum nyambung. Orang Jepang tidak peduli dengan rezeki seberapa yang dia dapat ketika dia melakukan sesuatu, yang penting kerja, itu perinsip mereka, akhirnya ya mereka banyak dapat. Kita ini orang Indonesia hitung hasilnya dulu, baru nyambungkan dengan do’a lalu bekerja. Jika tidak dapat, do’anya yang disalahkan, Tuhannya tidak mau mendengar, bukan kerjanya dan perinsip kerjanya yang salah. Masalahnya boleh jadi disitu, mau menyamakan orang yang sudah bekerja bertahun-tahun, sudah propesional, lalu kita baru satu dua hari mau mendapat yang sama. Om-om. Atau mungkin cara kita yang bekerja salah, orang bekerja suatu hal mungkin menggunakan waktu 24 jamnya saja kurang untuk mendapatkan hasil yang maksimal menurut dia, eh tau-taunya datang kita dengan berbaik sangkaan kita kepada Allah setelah kita mendapat training dari instruktur MLM misalnya hanya sekedar ngomong dan Cuma beberapa jam waktu sisa kita gunakan bisa mendapat mer-C, om-om
Pecaya tidak, iman dan rezeki itu berhubungan, kalau enggak percaya perdalam lagi pemahaman bagaimana perjuangan nabi kita Muhammad saw. Butuh waktu 4 tahun pulang balik dari rumahnya ke pendakian gua Hiro untuk bisa mendapatkan Alqur-an, butuh waktu 2 tahun menengadahkan wajahnya ke-langit untuk dapat rezeki berupa perintah untuk berkiblat ke baitul haram, butuh 24 tahun untuk menyulap Mekkah kampungnya untuk menjadi kampung beriman. Ada luka sehingga giginya ada yang tanggal, ada duka sehingga anaknya dan istrinya meninggal karena perjuangan. Dan itu semua dia lakukan setelah Beliau saw mengimani bantuan Tuhan. Kita kok malah pengennya lebih hebat dari beliau, baru saja sholat dengan husyu –menurut kita, kok sudah pingin diberi karomah, jika mau jalan pas hujan dengan do’a kita bisa berhenti hujan, kalau ada yang sakit datang kepada kita Cuma diusap-usap saja tempat yang sakit langsung sembuh, kalau ada keinginan pergi ke Amerika jalan-jalan (sambil berdakwah katanya) langsung ada uang, rasanya pingin hidup yang serba pas-pasan, kalau mau makan pas ada makananan, kalau mau istri pas ada yang melamar, cantik lagi, kalau mau jengkol pas ada yang manjat. Ah pokoknya serba surga dech, kan itu janji gurutta setelah kamu bisa mengamalkan dzikir 5000 kali Tahlil, 5000 kali Sholawat dalam waktu 40 hari tak boleh putus. Eit setelah itu boleh putus kah tuan guru.
Iman dan rezeki, kok jadi pokok ya padahal kita tadi membahas iman dan wasilah kok bisa-bisanya kita bedakan penjagaannya. Yah kita menghibur diri lagi, semoga Allah menilai kita adalah hamba-Nya yang lagi sedang berproses, semoga beberapa hari kemudian, atau beberapa bulan, atau mungkin beberapa tahun kemudian, yang penting sebelum matilah mudahan, kita bisa menikmati hidup ini dengan penjagaan iman yang lebih dari pada yang lain. Amin.


PERLU KESERIUSAN TINGKAT TINGGI



Banyaknya permasalahan yang kita hadapi, adalah bagian dari kehidupan yang hakiki, bukan untuk di hindari akan tetapi harus diselesaikan, masalah akan bertumpuk, bila kita lamban dalam mensikapi masalah, masalah akan segera berganti dengan masalah lain bila kita tidak segera menyelesaikannya. Kehidupan ini tidak akan hilang dari masalah, karena masalah adalah bagian dari kehidupan, orang tidak akan memiliki masalah bila dia tidur terus, tapi ketika bangun maka akan terasa semua di sekitarnya bahkan termasuk tidurnya bermasalah. 
Masalah paling berat yang dimiliki oleh seseorang, boleh jadi ringan di sisi orang lain. Dan masalah ringan, kemungkinan bagi orang lain adalah masalah besar, bukan hanya karena pengetahuan dan pengalaman yang menentukan ringan dan beratnya suatu masalah, namun yang paling esensial adalah sikap mental dalam menghadapi masalah.
Orang yang memiliki Tuhan juga bermasalah, orang yang tidak mau menerima Tuhan juga bermasalah, namun akan menjadi beda dalam mensikapi masalah, orang yang dapat menyerahkan sepenuhnya masalahnya kepada Tuhannya dan berusaha menyelesaikannya, ketimbang orang yang menyerahkan masalahnya kepada dirinya dan berusaha menyelesaikannya. Sikap mental dapat mempengaruhi, namun sikap mental yang dilandasi iman akan lebih jauh mempengaruhi baiknya kesiapan seseorang dalam menghadapi masalah.

Perlu keseriusan tingkat tinggi ketika masalah yang kita hadapi adalah perkara malas untuk bekerja, malas untuk melakukan sesuatu, apalagi masalahnya akan bertambah ketika rasa malas itu dipicu dengan sakit yang sebenarnya bukan disebabkan oleh pekerjaan sehingga sakitnya bertambah, namun lebih karena kurang mengkonsumsi sesuatu yang menunjang kesehatannya. Keseriusan tingkat tinggi inilah yang harus dipupuk, yang insya Allah menyebabkan banyak masalah yang bisa diatasi dengan baik sehingga penyakit-penyakit yang ada bukan malah menjadi masalah namun akan menjadi berkurang. Insya Allah. Amin 


Ingat Waktu ..... Dalam Setiap Aktivitas