Saya duduk di depan kelas, memperhatikan siswa-siswi saya. Mengamati mereka dan mencoba mencari tau ‘strategi apa gerangan’ yang harus saya terapkan untuk siswa-siswai saya.
Dalam pengamatan atau boleh disebut lamunan itu, ada pertanyaan sederahana yang muncul, mengapa ada orang (baca :siswa-siswi) yang memiliki kemampuan yang sungguh luar biasa, mulai dari kemampuannya menguasai pelajaran hingga kemampuannya mempengaruhi kepada orang lain. Dan ada juga yang mempunyai kemampuan sangat kurang sekali, baik yang disebabkan kurangnya memberikan perhatian, maupun lemahnya dalam berpikir dan berlogika.
Saya terkadang takut, karena jauhnya (terkadang) perbedaan antara sifat dari orang satu dengan orang lainnya, lantas muncul pertanyaan-pertanyaan, “apakah Allah itu adil dengan menetapkan takdirnya, ada yang memiliki kelebihan-kelebihan dan ada juga orang yang memiliki sebaliknya?. Ataukah manusia yang malas mengeksplorasi kemampuan dirinya?.
Jawabannya dari pertanyaan di atas sungguh sangat beragam, sesuai dengan apa yang dirasakan oleh orang yang akan menjawabnya. Mengapa demikian, di acara kick Andy pernah di tayangkan seorang yang terlahir cacat, dan ketika lahirnya sempat terjadi konflik internal dalam keluarganya, apakah sih anak akan dibiarkan bersama keluarga itu dan akan menanggung malu disebabkan olehnya atau sih anak akan dikirim kesebuah panti asuhan di luar negeri. Ibu sih anak bertahan, bahwa dia akan berusaha mendidiknya dalam naungannya. Dan ternyata dengan perjuangan sih ibu dan sih anak, eh akhirnya sih cacat ini selalu merasa diperlakukan adil oleh Tuhan. Namun ada juga orang yang sudah diberikan pasilitas anggota tubuh lengkap, malah sering minder dalam pergaulan dikarenakan hidungnya lebih besar dari yang lainnya, atau kulitnya lebih hitam dari yang lainnya.
Malah seorang penyanyi cacat dalam sebuah grup yang pernah mendapatkan penghargaan di Indonesia karena mampu membawakan lagu tanpa alat musik kecuali permainan suara mulut mengatakan “Saya tidak cacat bahkan saya terasa lebih sempurna”, padahal saat itu tanggannya hanya setengah yang terlihat.
Saya mengambil kesimpulan dari semua yang telah saya lewatkan, bahkan terkesan cepat sekali mengambil kesimpulan karena didesak oleh siswa-siswi saya dengan sebuah pertanyaan, kebetulan saya saat itu mengajarkan bahasa Inggris, “Ustadz apa bahasa Inggrisnya Strategi?” dan ada juga sih anak yang bertanya: “Ustadz apa ya bahasa Inggrisnya ‘apa’?” Yah jawabannya yang saya ambil saat itu untuk menjawab semua pertanyaan yang telah lalu lalang seperti gosokan dalam otakku adalah “STRATEGI”
Strategi untuk mengalahkan rasa malas
Strategi untuk mengalahkan rasa takut
Strategi untuk mengalahkan rasa minder
Strategi untuk menampilkan dan memberikan yang terbaik
Strategi untuk senantiasa baik sangka kepada Allah
Strategi untuk membawa generasi, sekolah, kampung hingga Indonesia, bahkan Asia, dan yang paling mendunia sekalipun kepada titik yang kita harapkan.
Namun tentunya, bukan hanya pasang strategi, tapi juga mampu menjalankan strategi itu dengan baik, semoga takdir yang menimpa kita adalah takdir yang mengatakana dimana ada usaha disana akan ada jalan, atau istilahnya: “man jadda wa jada”, “there is a will there is a way” atau yang lebih pasti dari itu semua adalah ungkapan indah Allah swt di dalam Alqur’an yang artinya: “Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang berusaha merubah (nasib)nya”
Wallahua’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar